Wanita berhubungan erat dengan perhiasan. Namun, kebanyakan di antara mereka justru tak memahami bagaimana menggunakannya untuk menunjang penampilan. Terkadang, memakai perhiasan dirasa terlalu berlebihan.

Seorang personal stylist di London, Melissa Lund, mencoba mengungkap beberapa mitos yang umum di masyarakat soal cara memakai perhiasan.


Menunggu waktu yang tepat

Menggunakan perhiasan hanya di acara pesta? Tak ada pakem soal itu. Menurut Melissa, perhiasan paling berkilau sekalipun, bisa dipadukan dengan busana sederhana. Kemeja putih dan celana denim misalnya, akan terlihat gaya dengan tambahan aksesoris kalung atau anting.

Memilih warna emas

Umumnya, warna emas cocok untuk kulit kuning atau sawo matang dan emas putih akan tampak berkilau pada kulit putih pucat. Sebenarnya, anggapan ini salah. Semua kulit cocok dengan warna mana saja. Soal kecocokan, dipengaruhi warna batu permata yang menjadi hiasannya.

Emas atau perak?

Kedua bahan ini memang berbeda, namun perpaduan keduanya juga bisa menarik. Emas, perak, dan merah jambu sering digunakan oleh desainer perhiasan untuk menciptakan inovasi cantik.

Perhiasan kecil untuk si mungil

Elizabeth Taylor pernah berkata: big girls need big diamond. Namun, Melissa berpendapat sebaliknya. Ukuran wajah ataupun pergelangan tangan tak memengaruhi pilihan bentuk perhiasan. Yang perlu menjadi pertimbangan adalah lebar bahu dan bentuk tulang pipi.

Harus serba sesuai

Masih beranggapan perhiasan harus serba sesuai? Bentuk kalung, gelang, cincin, dan anting tak harus sama. Begitu pula aksesoris yang menjadi liontinnya. Tak perlu menggunakan sepaket perhiasan bersamaan, karena itu justru terkesan ‘kuno’.

Tak bisa dipakai sehari-hari

Kalau tampil polos tanpa perhiasan sengaja dilakukan dengan alasan kriminalitas, tidak masalah. Namun, jika itu disebabkan keraguan menggunakan perhiasan dalam keseharian, sayang sekali. Perhiasan berpotongan sederhana bisa membuat penampilan lebih elegan di mana saja.